Empat Cinta Allah Dalam ROHIS

23 Sep

Islamedia – Tahun 2002 adalah tahun pertamaku mengenal ROHIS. Perkenalan yang tidak disengaja ini membawaku mengenal indahnya Islam. Bertemu dengan orang-orang yang berusaha untuk menjadikan dirinya shalih, dan yang lebih utama adalah berusaha untuk menshalihkan lingkungannya. Karena itulah ROHIS di sekolahku terbentuk. Berawal dari kepedulian alumni terhadap adik-adik satu almamaternya. Saat itu, aku yang masih duduk di kelas 1 SMP manjadi bagian dari lingkaran ukhuwah yang indah. Rohis adalah tempat pertamaku semangat untuk menghapal ayat-ayat Al-Qur’an, mengetahui tata cara beribadah yang benar, belajar mengenai akhlak seorang muslim, mengikuti kegiatan tafakkur alam yang luar biasa seru dan berhikmah, dan bermacam kegiatan lainnya. Sebagai seorang anak yang mulai menginjak remaja, bagiku ROHIS bukanlah tempat yang membosankan, malah sebaliknya,mengesankan. Hal ini karena adanya ketulusan dari kakak-kakak kami yang di tengah kesibukan mereka yang padat, selalu ada waktu untuk kami.
Ketika aku mengenyam pendidikan di SMA, kesan baik dengan ROHIS SMP, membuatku bergabung dengan ROHIS SMA tempatku bersekolah. Kali ini, dengan bertambahnya kematangan pemahaman, mulailah aku bersahabat dengan apa yang disebut dengan amanah dan dakwah. Membuatku lebih peduli dengan kondisi lingkungan sekitarku. Mungkin, inilah yang disebut dengan semangat untuk berbagi. Berbagi kebaikan dengan orang-orang terdekat.

Kampus menjadi petualanganku berikutnya bersama ROHIS. Salman menjadi tempat favoritku dan teman-temanku. Masjid kampus ini memang luar biasa daya magnetisnya. Membuat siapapun betah berlama-lama di dalamnya. Kampus memang banyak disebut sebagai miniatur sebuah negara, karena didalamnya terdiri dari individu-individu yang berasal dari daerah-daerah di Indonesia. Kebaikan dan keburukan jelas terlihat berkompetisi untuk mendominasi pemikiran individu kampus. Individu-individu yang di masa sekolahnya sudah mengenal ROHIS, terlihat lebih matang dalam mengambil pilihan dan memiliki filter untuk menyaring segala hal yang masuk ke dalam dirinya.

Di tengah arus informasi yang begitu deras dan bebas, remaja menjadi salah satu target utama untuk menanamkan fikrah liberal. Remaja muslim pun tak pelak menjadi salah satu korbannya. Penanaman pengetahuan agama menjadi salah satu alat pertahanan bagi setiap anak untuk mempertahankan diri di tengah kondisi seperti inim agar tak tergelincir. Namun, hal itu tidaklah mudah. Karena pendidikan agama yang seharusnya pertama ditanamkan di keluarga, saat ini tidak lagi dilakukan. Alasan yang paling banyak ditemukan adalah karena kesibukan orang tua. Orang tua mempercayakan pendidikan agama anak-anaknya pada sekolah. Seperti kita ketahui, pelajaran agama di sekolah pun terbilang minim, 2 jam pelajaran per pekan. Tentu saja ini tidak cukup. ROHIS di sekolah-sekolah banyak terbentuk karena kepedulian terhadap minimnya pendidikan keislaman di keluarga dan sekolah terhadap anak.

Kader-kader yang dihasilkan dari ROHIS, baik di sekolah maupun kampus tidak dapat dipandang sebelah mata. Individu yang telah mengenal ROHIS di sekolah, ketika mereka masuk ke kampus, mereka bisa menjadi penggerak untuk hadirnya kebaikan di lingkungan kampus mereka. Ketika mereka lulus dari kampus, mereka akan menyebar dalam masyarakat, dan diharapkan mereka akan tetap dapat mempertahankan keislaman mereka dan mewarnai lingkungan mereka. Begitupun ketika mereka menjadi seorang pemimpin, diharapkan mereka menjadi pemimpin yang adil, yang sangat dirindukan oleh bangsa ini. Tak dapat dipungkiri, bahwa pemuda adalah aset bangsa. Sebuah bangsa dapat maju dan besar karena peranan pemudanya, atau sebaliknya. Inilah yang membuat ROHIS saat ini mengambil peran penting dalam pembentukan moral dari pemuda, meskipun tak jarang ROHIS diterpa tudingan-tudingan negatif. Semoga tudingan tersebut tidak melemahkan orang-orang yang bergerak didalamnya, justru semakin menguatkan langkah ROHIS dalam menebar kebaikan. Bagiku, ROHIS adalah empat cinta dari Allah untukku. Cinta pertama, saat Allah mengenalkanku pada ROHIS SMP. Cinta kedua, saat aku bergerak bersama ROHIS SMA. Cinta ketiga adalah saat berinteraksi dengan ROHIS kampus. Dan cinta keempat adalah saat Allah memberiku kesempatan untuk bersyukur atas karunia_nya, dengan masih dapat kembali membina ROHIS tempatku pertama mengenalnya, di SMP. Seperti yang dilakukan oleh kakak-kakak kelasku dulu.

Oleh : Rini Inggriani
Tulisan ini di ikut sertakan dalam lomba menulis Islamedia : Rohis Mengawal Moral Bangsa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: