Hati-hati, NII Masih Berkeliaran!

21 Sep

Memasuki tahun ajaran baru perkuliahan, praktik pengkaderan tiap organisasi mulai melancarkan aksinya. Target sasaran pun tertuju pada mahasiswa baru. Sebuah organisasi Negara Islam Indonesia (NII) juga turut mecari kaderisasi. Meski samar namun pergerakan mereka tetap eksis dan menghawatirkan.

Dalam sebuah kesempatan Firdaus, mahasiswa Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi, Jurusan Manajemen Dakwah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menuturkan pengalaman pribadinya pada angkringanwarta.com terkait upaya pengkaderan NII terhadap dirinya.

“Saat duduk di emperan (serambi) masjid, saya didatangi 3 orang yang tak dikenal, mereka tampak sopan juga ramah. , tutur Firdaus, Sabtu (1/9)

Layaknya pertemuan pada umumnya, dalam pertemuan itu, Firdaus berkenalan dan mengobrol, sesekali diajaknya berbincang tentang keislaman. Entah kenapa, diakhir pertemuannya itu, Firdaus dimintai nomor telepon.

“Sebelum berpisah, mereka meminta nomor kontak dengan alasan untuk memudahkan dalam berkomunikasi,” imbuhnya.

Beberapa fakta yang terjadi dalam perekrutan NII, dalam menjalankan aksinya, kader NII terkesan halus dengan penuh kehati-hatian. Untuk menutupi modus kepada calon korban, biasanya mereka bertutur manis menawarkan peluang kerja utuk menjadi guru privat, lantas diajak ketemuan di sebuah tempat dan menyuruhnya membawa profil pribadi serta surat lamaran kerja.

Modus tersebut ternyata dialami firdaus. beberapa hari setelah pertemuan itu, Firdaus ditawari pekerjaan menjadi guru privat. Tentu saja membuat Firdaus tertarik, apalagi gaji yang dijanjikan cukup menggiurkan.

Setelah dapat tawaran pekerjaan, akhirnya janjian dan ketemuan di sebuah perumahan kawasan Bintaro. Anehnya setelah sampai, bukannya di-interview, justru konsep hijrah yang mereka ajarkan. “Lucunya, saya diam seolah nurut saja meski batin menolak. Kapok saya,” jelasnya.

Modus lain dari kaderisasi organisasi NII adalah para korban umumnya dimintai uang infak dan dibawa ke sebuah hutan dengan mata tertutup. Pada kesempatan itu juga temannya diminta uang infak 200 ribu rupiah, namun hanya dikasih 50 ribu rupiah karena hanya itu yang dia punya. Karena takut, sesampainya diantar pulang nomor HP pun dibuang.

Keterangan senada juga datang dari Anis perihal keanehan yang dialami oleh teman kuliahnya. Setelah tergabung dengan anggota NII, sikap temannya berubah, berubah seolah menjadi lain. Dia selalu menganggap orang yang tidak sepaham diaanggapnya salah dan sesat. “Akhir-akhir ini dia suka menutup diri dan selalu menjaga jarak seolah ada yang dirahasiakan, tanpa terkecuali terhadap aku, teman dekatnya,” tegasnya.

Kejadian yang sama bisa terjadi kepada siapapun dan kapanpun. Tercatat sekitar awal bulan Mei, kasus hilangnya seorang mahasiswi dari Universitas Indonesia semester akhir asal Tegal, Febriani alias Lian. Tanpa ada kabar, tiba-tiba menghilang dan tidak seorang pun tahu termasuk pihak keluarga juga teman kuliahnya.

Adapun baru-baru ini kasus kehilangan kembali terjadi, giliran di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kali ini menimpa Ahmad Teguh Iman, mahasiswa semester 2 Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Adab dan Humaniora. Kuat dugaan hilangnya korban adalah akibat pencucian otak (brain wash) yang dilakukan kader organisasi NII. Kalau perlu, mungkin Anda target berikutnya! (AN)

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mengantisipasi praktik kaderisasi NII adalah:

  1. Target korban umumnya seorang yang pendiam, suka menyendiri/ sendirian, lugu, pengetahuan agama tipis, lulusan SMU.
  2. Dalam menjalankan aksi, biasanya dilakukan di lingkungan kampus, terutama di masjid atau musholla dengan berombongan, setidaknya 3 orang atau lebih.
  3. Para pelaku NII biasanya Sok Kenal Sok Dekat (SKSD) dan bersikap tertutup. Dan sebelum pisah, target korban biasa diminta nomor HP-nya.
  4. Untuk menarik hati target korban, mereka biasanya menawarkan iming-iming pekerjaan (guru privat, mengaji dll) atau kerjasama dagang.
  5. Doktrinasi yang biasa dilakukan dengan menawarkan konsep “hijrah” dan melihat setiap peristiwa/ bencana yang terjadi dengan sudut pandang Al-Qur’an dan Hadist, seolah sudah digariskan oleh Allah Swt. sebagaimana yang terjadi pada para nabi sebelumnya yang diabadikan (tercatat/ terkisah) dalam Al-Qur’an.
  6. Para korban selalu diminta uang infak tanpa dijelaskan nilai guna dan kemanfaatannya, terlebih akan kemana aliran uang mengalir nantinya.
  7. Jika dalam posisi terpojok, bahkan mereka tidak merasa canggung bersumpah atas nama Allah Swt. demi mengelabui dan menyelamatkan identitas diri dan teman-temannya.

Written By angkringanwarta.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: